Biografi

Garis Waktu Kehidupan

Dari kampung halaman di Minangkabau hingga menuliskan riwayat hidupnya bagi anak cucu, berikut tahapan utama kehidupan Haji Habib Arrasuli sebagaimana tercatat dalam naskahnya sendiri.

Awal Kehidupan

Kehidupan di Minangkabau

Lahir dan dibesarkan di Candung, wilayah Bukittinggi, Minangkabau. Sejak muda ia akrab dengan adat dan petatah-petitih Minangkabau yang kemudian banyak ia sisipkan dalam syair dan tulisannya.

16 Agustus 1916

Merantau ke Tanah Semenanjung

Pada usia muda, dengan empat orang anak kecil dan istri ditinggalkan di kampung, ia berangkat dari rumah pada pagi hari Kamis menuju Bukittinggi, lalu Teluk Bayur, untuk berlayar meninggalkan tanah air menuju Semenanjung Malaya.

1916 – 1920-an

Kehidupan di Malaka

Setibanya di Penang lalu Malaka, ia menjalani masa-masa sulit sebagai perantau — sempat berkuli di kebun getah sebelum akhirnya berniaga dan membangun kehidupan baru di negeri orang.

Perjalanan ke India

Menumpang Kapal ke Madras dan Bombay

Dalam perjalanannya menuju tanah suci, ia menumpang kapal dari Penang menuju Madras kemudian Bombay (Mumbai), tempat ia menanti kapal selanjutnya yang akan membawanya ke Jeddah.

Menunaikan Haji

Mekkah dan Jeddah

Setelah menempuh perjalanan laut yang panjang dan penuh tantangan, ia tiba di Jeddah dan melanjutkan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, termasuk mengerjakan wukuf dan menziarahi makam para ulama.

Sepulang dari Tanah Suci

Menulis Riwayat Pelayaran

Sekembalinya ke Malaka dan kemudian kampung halaman, ia menuliskan seluruh perjalanannya dalam naskah Riwayat Pelayaran, lengkap dengan syair pengantar dan penutup bergaya Minangkabau, sebagai catatan dan pelajaran bagi anak cucunya.

19 Januari – 11 Februari 1942

Kehidupan Keluarga

Pada 1942 ia menulis Syair Hijrah Kelahiran Anak-anak, mencatat kelahiran keenam belas anaknya satu per satu dengan tanggal Hijriah dan Masehi, serta menitipkan pesan persaudaraan bagi seluruh keturunannya.